Kunci Kebahagiaan Hidup


Assalamu’alaikum ikhwah…
Sebenarnya bahagia itu sederhana, asalkan kita mengerti bagaimana caranya mensyukuri hidup. Aku pernah membaca sebuah buku yang tak sengaja ku temukan di rak masjid sekolahku. Buku itu banyak menceritakan tentang berbagai kisah yang sangat menginspirasi sehingga masih dapat ku ingat hingga saat ini. Meskipun memang aku lupa judul dan pengarangnya, karena buku tersebut belum selesai ku baca. Buku itu sudah tidak ada lagi saat aku mencarinya beberapa hari kemudian. Skip.
Intinya, salah satu bab di buku tersebut menceritakan tentang sebuah kisah inspiratif dari seorang petenis terkemuka di masanya. Namanya Arthur Ashe, seorang petenis lagendaris berkulit hitam dari Amerika Serikat. Ia memenangkan tiga gelar juara Grand Slam; Amerika Open (1968), Australia Open (1970), dan Wimbledon (1975). Pada suatu ketika, ia terkena serangan jantung yang mengharuskannya menjalani 2 kali operasi. Namun bukannya sembuh, Arthur malah terjangkit virus HIV akibat transfusi darah yang diterimanya. Salah seorang penggemar pernah menulis surat untuknya, “Mengapa Tuhan harus memilihmu untuk menderita penyakit seperti itu?”. Untuk pertanyaan ini Arthur menjawab, “Di dunia ini ada 50 juta anak sedang memulai bermain tenis, 5 juta di antaranya belajar cara bermain tenis, 500 ribu belajar tenis profesional, 50 ribu datang ke sirkuit, 5 ribu mencapai grand slam, 50 mencapai Wimbledon, 4 orang ke semi final, 2 ke final, dan bahkan ketika saya memegang sebuah piala, saya tidak pernah bertanya kepada Tuhan, ‘Mengapa saya?’. Dan hari ini ketika saya dipilih Tuhan untuk mengalami sakit seperti ini, saya juga tidak seharusnya bertanya, ‘Mengapa saya?’”.
Banyak orang di dunia ini mengeluh dengan kekurangan yang ia miliki dan nasib buruk yang menimpanya, seolah-olah selama hidup ia hanya berhak menerima kesenangan dan nasib baik sehingga merasa berhak untuk menuntut Allah SWT atas takdir buruk yang ia alami. Padahal pada hakikatnya, mengeluh adalah tanda kurangnya syukur dalam diri manusia. Sebanyak apapun nikmat yang telah Allah berikan kepadanya, tanpa adanya syukur dihati manusia nikmat tersebut tidak akan terasa ‘nikmat’ dan tentunya akan selalu terasa kurang. Kita boleh melihat ke atas untuk memotivasi diri kita agar senantiasa berdoa dan bekerja keras, namun kita juga perlu melihat ke bawah untuk menanamkan rasa syukur sekaligus sebagai pengingat bahwa sesunggunya kita masih lebih beruntung dari sebagian orang.
Tidak sedikit orang yang telah diberi kelebihan dan kecukupan oleh Allah dalam hidupnya namun masih saja tidak tenang dan bahagia. Ada pula orang yang hidupnya serba kekurangan, namun ia dapat menjalaninya dengan penuh kebahagiaan. Karena kebahagiaan tidak dapat diukur dengan kekayaan, paras, kekuasaan, ketenaran, kesehatan, maupun kesuksesan. Akan tetapi diukur dari tingkat rasa syukur yang tertanam dalam hati manusia. Dengan demikian, kebahagiaan dapat dimiliki oleh semua orang dan bukan orang-orang dari golongan tertentu yang memiliki jabatan tinggi, paras yang indah, maupun kekayaan yang melimpah. Karena kebahagiaan ada di hati manusia dan hanyalah untuk orang-orang yang bersyukur.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

FORSIKA
Lebih Dekat Bersahabat
==============
Kabinet Express
#InAction
#AkhwatDay
#KunciKebahagiaanHidup
#KemuslimahanForsika
================
Line : @fyg0468j
Fb : Muslim Pertanian
Ig : @MuslimPertanian
Youtube : FORSIKA FP UB
Web : Forsika.fp.ub.ac.id

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *