Sejarah Halal Bi Halal


[SEJARAH HALAL BI HALAL]

Assalamu’alaikum ikhwah

Lebaran telah tiba, ajakan untuk halal bi halal silih berganti datang. Apasih halal bi halal itu??? Halal bi halal merupakan kegiatan bersilaturahmi yang termasuk dalam tradisi masyarakat Indonesia. Tidak dijelaskan secara jelas mengenai dimana dan sejak kapan halal bi halal dilaksanakan. Menurut informasi dari Ensiklopedia Islam tahun 2000 hanya menjelaskan sedikit saja bahwa halal bi halal menjadi tradisi resmi yang dilakukan di Indonesia sejak tahun 1940an dan mulai berkembang pada tahun 1950an. Halal bi halal memiliki arti saling mengijinkan antara satu sama lain. Yaitu menginjinkan kesalahan yang telah diperbuat menjadi halal bagi masing-masing. Halal bi halal identik dengan pengucapan permintaan maaf.

Menurut Hakam (2015), benar bahwa halal bi halal diambil dari kata-kata arab. Akan tetapi tidak sesuai dengan grammar dalam bahasa Arab. Di era kehidupan nabi Muhammad SAW, dinasti Umayyah, dinasti Abbasiyah hingga dinasti Ustmaniyyah festival ini belum ditemukan. Festival ini juga tidak ditemukan pada negara di wilayah arab seperti Turki dan Iran. Sehingga dapat dikatakan bahwa tradisi halal bi halal adalah tradisi yang melekat pada umat islam di Indonesia, khususnya di Jawa. Kegiatan halal bi halal umumnya yaitu berkumpul saling berjabat tangan dan mengucap permintaan maaf dan kegiatan makan bersama. Tujuan sederhana dari halal bi halal adalah mengubah sesuatu yang haram menjadi halal (Hakam, 2015).

Menurut sumber yang lain menjelaskan bahwa halal bi halal pertama kali digagas oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah. Istilah ini muncul ketika presiden Soekarno pada tahun 1948 meminta saran kepada KH. Wahab Chasbullah untuk mengatasi Indonesia yang pada saat itu terjadi gejala disintegrasi bangsa, yaitu para elit politik saling bertengkar dan tidak mau duduk dalam satu forum, sementara pemberontakan terjadi dimana-mana. Pada tahun 1948, dipertengahan bulan ramadhan. KH. Wahab Chasbullah kemudian memberikan saran untuk melaksanakan silaturahmi dengan istilah baru yaitu halal bi halal dengan penjelasan bahwa saling menyalahkan termasuk dosa. Dosa itu haram. Agar mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sejak saat itu istilah halal bi halal kemudian diikuti masyarakat secara luas.

Pada dasarnya, bentuk kegiatan halal bi halal telah dimulai sejak KGPAA Mangkunegara I atau yang dikenal dengan pangeran Sambernyawa. Setelah Idul Fitri, beliau menyelenggarakan pertemuan antara Raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana dan melakukan kegiatan halal bi halal. Akan tetapi pada saat itu pangeran Sambernyawa belum menyebutkan istilah “Halal bi Halal”, meskipun esensinya sudah ada.

Istilah “halal bi halal” ini dicetuskan oleh KH. Wahab Chasbullah dengan analisa pertama (thalabu halâl bi tharîqin halâl) adalah: mencari penyelesaian masalah atau mencari keharmonisan hubungan dengan cara mengampuni kesalahan. Atau dengan analisis kedua (halâl “yujza’u” bi halâl) adalah: pembebasan kesalahan dibalas pula dengan pembebasan kesalahan dengan cara saling memaafkan.
Wallahul Muwafiq ila Aqwamith Thoriq

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Sumber :
http://www.nu.or.id/post/read/60965/kh-wahab-chasbullah-penggagas-istilah-ldquohalal-bihalalrdquo
Hakam, S. 2015. Halal bi halal, a festival of idulfitri and it’s relation with the history of islamization in java. Episteme. 10(2) : 385- 404.

FORSIKA
Lebih Dekat Bersahabat
==============
Kabinet Express
#InAction
#AkhwatDay
#SejarahHalalBiHalal
#KemuslimahanForsika
================
Line : @fyg0468j
Fb : Muslim Pertanian
Ig : @MuslimPertanian
Youtube : FORSIKA FP UB
Web : Forsika.fp.ub.ac.id

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *